• Permudah Akses Terhadap Obat

    Ketersediaan dan keterjangkauan obat bagi pengidap Hepatitis C amat krusial, karena itu pemerintah diharapkan mempercepat proses registrasi obat hepatitis C baru yang terjangkau bagi mereka yang terinfeksi virus itu.
    Menurut juru bicara koalisi Obat Murah, Aditya Wardhana, Jumat (26/6) di Jakarta, negosiasi harga dan proses pendaftaran untuk mendapat izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan penting bagi pasien hepatitis C agar dapat pulih. Aditya memaparkan, kini ada obat hepatitis C dengan tingkat keberhasilan di atas 90 persen, bahkan bagi pasien sirosis hati. Obat Oral dengan nama generik Sofosbuvir itu juga memiliki efek samping relatif minim.
    Namun, pemilik paten Sofosbuvir, yakini perusahaan Gilead, menetapkan harga jual obat untuk total periode penuh pengobatan selama 24 minggu mencapai 86.000 dollar AS ( setara dengan 1,1 Miliar)
    Dibeberapa negara seperti India, Pakistan, dan Mesir telah beredar Sofosbuvir generik dengan harga jauh lebih murah 250 dollar AS (setara dengan Rp. 3,3 Juta) per botol untuk pakaian satu bulan. Baru-baru ini Tiongkok menolak permohonan paten dari Gilead Sciance, produsen Sofobuvir itu diapresiasi dokter lintas batas (MSF).
    Direktur medis MSF, Jennifer Cohn mengatakan harga tinggi yang dipatok Gilead menghambat orang-orang mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. Obat Hepatitis C yang ampuh akan sia-sia jika tak ada yang mampu membelinya.
    Selama ini, Pasien Hepatitis C menggunakan obat golongan pegylated interferon (PEG-IFN) dengan kombinasi Ribavirin (RBV). Obat itu untuk mengobati penyakit tersebu, tetapi tingkat keberhasilan terapi untuk sejumlah tipe Virus Hepatitis C masih rendah.
    Disamping itu, obat tersebut juga memiliki berbagai efek samping seperti depresi, kekebalan tubuh pasien menurun, rambut rontok, gejala flu, anemia, berat badan turun dan sakit kepala mulai dari ringan hingga berat. Beragam efek samping tersebut menyebabkan banyak pasien hepatitis C putus meminum obat (AHD).